AI Palsu, Klaim Hak Cipta, dan Masa Depan Kepemilikan Musik

4

Musisi folk Murphy Campbell baru-baru ini menjadi studi kasus dalam munculnya kekacauan musik yang dihasilkan AI dan penegakan hak cipta yang agresif. Pada bulan Januari, dia menemukan lagu-lagu yang tidak sah muncul di profil Spotify-nya—lagu-lagu yang tidak pernah dia unggah, dengan vokal yang terdengar sangat artifisial.

Masalahnya: AI kini mampu mereplikasi suara artis untuk membuat suara palsu yang meyakinkan, yang kemudian diunggah ke layanan streaming dengan nama artis aslinya. Campbell memverifikasi kecurigaannya menggunakan alat pendeteksi AI, yang menunjukkan bahwa jejak tersebut kemungkinan besar dihasilkan oleh AI. Insiden ini menyoroti kesenjangan kritis dalam keamanan platform: Campbell memerlukan upaya yang signifikan untuk menghapus lagu-lagu palsu tersebut, dan meskipun demikian, beberapa lagu tetap dapat diakses dengan profil artis yang telah diubah.

Spotify sedang menguji sistem persetujuan manual untuk unggahan, namun Campbell skeptis, mengingat janji-janji masa lalu dari raksasa teknologi yang belum sepenuhnya terwujud. Situasi semakin meningkat ketika serangkaian video diunggah ke YouTube melalui distributor Vydia, mengklaim kepemilikan hak cipta atas materi domain publik Campbell, termasuk lagu-lagu daerah yang berusia berabad-abad.

The Twist: Meskipun waktunya membuat kami terkejut, Vydia tetap tidak terhubung dengan unggahan sampul AI. Perusahaan mengklaim sistem ID Kontennya hanya menandai 0,02% klaim sebagai tidak valid, yang disebutnya sebagai standar industri yang “luar biasa”. Namun, kejadian ini menggarisbawahi masalah yang lebih luas: dunia generasi AI, distribusi musik, dan hak cipta penuh dengan kerentanan.

Campbell menunjukkan bahwa pelecehan tersebut terjadi lebih dalam daripada masalah yang terlihat di permukaan. Insiden tersebut juga memicu ancaman terhadap karyawan Vydia sehingga memaksa evakuasi kantor. Kasus ini merupakan pengingat bahwa platform yang sudah mapan sekalipun dapat dieksploitasi, dan bahwa seniman dibiarkan menghadapi lanskap yang kompleks dengan sumber daya yang terbatas.

“Saya pikir hal ini lebih mendalam dari yang kita kira,” kata Campbell.

Masa depan kepemilikan musik tidak pasti. Ketika alat AI menjadi lebih canggih, dan penegakan hak cipta menjadi semakin otomatis, para seniman mungkin terus-menerus berjuang untuk melindungi identitas dan hak kreatif mereka.