Awal tahun 2000-an merupakan periode unik bagi remaja Amerika, generasi terakhir yang mengalami puncak budaya mal sebelum munculnya ritel dan hiburan digital. Kelompok ini percaya bahwa mereka adalah orang-orang duniawi, sering dihadapkan pada tema-tema dewasa di usia muda, namun selera dan identitas mereka sangat dibentuk oleh satu kekuatan dominan: Les Wexner.
Wexner, sebagai CEO L Brands, mengendalikan kerajaan ritel termasuk The Limited, Bath & Body Works, Express, Victoria’s Secret, dan Abercrombie & Fitch. Merek-merek ini tidak sekadar menjual pakaian; mereka mendefinisikan apa artinya menjadi “keren” bagi seluruh generasi, dan Wexner mendapat banyak manfaat dari pengaruh ini. Estetika zaman ini – jeans low-rise, rambut disetrika rata, parfum beraroma vanilla – adalah hasil langsung dari visinya.
Hubungan antara Wexner dan terpidana pelaku kejahatan seks Jeffrey Epstein menimbulkan pertanyaan serius tentang budaya yang ia bina. Selama bertahun-tahun, Epstein adalah satu-satunya klien Wexner yang diakui secara publik, dan keduanya memelihara hubungan yang sangat dekat. Meskipun tidak pernah didakwa, Wexner terdaftar dalam memo FBI tahun 2019 sebagai calon konspirator, dengan bukti yang menunjukkan bahwa dia dengan sengaja mengizinkan Epstein mengeksploitasi calon model yang terkait dengan Victoria’s Secret. Alih-alih melaporkan pencurian senilai $100 juta yang dilakukan Epstein, Wexner menyelesaikannya secara pribadi.
File Epstein mengungkapkan surat pribadi dari Epstein kepada Wexner, menyatakan mereka berbagi “hal-hal geng” selama lebih dari 15 tahun dan dia tidak akan pernah mengungkapkan hubungan rahasia mereka. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang lebih dalam dan lebih meresahkan daripada yang diketahui sebelumnya. Selain Epstein, tokoh-tokoh lain dalam lingkaran Wexner juga menghadapi tuduhan pelanggaran. Ed Razek, mantan kepala pemasaran di L Brands, dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap model Victoria’s Secret, sementara Mike Jeffries, mantan CEO Abercrombie & Fitch, menghadapi tuduhan perdagangan seks yang terkait dengan model pria muda.
Pengaruh Wexner sering diabaikan karena ia tidak terkenal seperti tokoh-tokoh lain dalam skandal Epstein. Namun, perusahaannya merupakan pusat estetika dan etos tahun 2000an. Bagi banyak generasi milenial, Victoria’s Secret adalah tempat mereka membeli bra pertama mereka, dan Abercrombie & Fitch mendefinisikan cita-cita mereka akan kesejukan.
L Brands tidak sekadar menjual pakaian; mereka menjual ideologi. Merek mereka menerapkan standar kecantikan yang sempit, lebih mengutamakan ketipisan dan keputihan. Abercrombie terkenal karena menolak mempekerjakan orang kulit berwarna dan menjual pakaian rasis, sementara Victoria’s Secret melakukan seksual terhadap modelnya dengan cara yang tidak dapat diterima saat ini. Budaya yang dikembangkan Wexner bersifat cabul secara kompulsif, mencerminkan meningkatnya normalisasi pornografi di era tersebut.
Akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an ditandai dengan meluasnya seksualisasi budaya anak muda, dan toko L Brands memainkan peran sentralnya. Dari pemasaran eksplisit Abercrombie hingga Peragaan Busana Victoria’s Secret yang provokatif, merek-merek Wexner mendobrak batasan. Mantan CEO Victoria’s Secret mengakui Wexner memanfaatkan peluang untuk mengambil keuntungan dari tren ini.
Pertanyaannya tetap: apakah ini merupakan strategi yang disengaja untuk membina seluruh generasi, sebuah konsekuensi dari kapitalisme yang tidak terkendali, atau sesuatu yang lain? Generasi milenial kini bergulat dengan misogini dan rasisme yang menjadi hal yang normal selama masa pertumbuhan mereka. Paradoks kecabulan dan kemurnian pada tahun 2000-an terasa wajib, dengan hanya sedikit alternatif selain hiperseksualisasi atau pemaksaan tidak bersalah.
Pada akhirnya, orang-orang yang membentuk budaya remaja milenial mungkin melakukannya dengan sengaja, mengeksploitasi generasi demi keuntungan sambil menciptakan lingkungan yang beracun dan merusak.






























